Tags

Sebetulnya saya males menulis tentang full time mommy dengan career mommy. Bukan karena tidak bisa menulis tentang hal itu, tapi saya males membawa kedua hal tersebut ke arena perdebatan, karena tidak akan ada titik temu nya.

Oke, saya jelaskan disini.

Saya adalah seorang pendukung full time mommy, bisa dilihat dari istri saya yang saya minta berhenti bekerja demi anak kami. Saya juga tidak ingin men-judge seorang career mommy karena bukan tugas saya untuk memberikan penilaian, walaupun saya tidak setuju jika anak yang dititipkan Tuhan dititipkan kepada pihak lain lagi dengan alasan apapun, bisa dilihat dari adik kandung perempuan saya yang memilih jalur career mommy, dan saya tidak ikut campur/ komentar.

Saya percaya jika seorang Ibu pasti akan melakukan yang terbaik untuk buah hati nya terlepas dari apapun alasan dibelakang nya. Saya tidak akan menyalahkan seorang Ibu yang harus bekerja karena suaminya tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar keluarga, inget… kebutuhan dasar (sandang, pangan, papan), bukan mobil bukan perhiasan bukan jalan-jalan bertamsya dll yang bersifat tersier dan gengsi-gengsian. Saya juga tidak akan menyalahkan seorang Ibu yang menjadi single parent atau menjadi single income jika harus bekerja memenuhi kebutuhan keluarga yang tentunya demi buah hati nya.

Yang membuat saya jengah adalah, adanya beberapa Ibu yang berlindung dibalik pembenaran untuk bisa melepaskan diri dari peran seorang Ibu dengan 1001 alasan dibaliknya, dan… membandingkan nya dengan seorang Full Time Mommy!!

Come on… tidak ada yang bisa dibanggakan dari seorang career mommy yang melakukan hal tersebut karena tidak betah dirumah, tidak betah mengerjakan tugas rumah tangga, tidak betah menemani anak seharian, tidak betah jika tidak pegang uang sendiri, yang setelah itu menggunakan alasan “saya kan cape bekerja seharian” untuk melepaskan anak nya lagi ke pembantu or something like that, yang kemudian ketika para pembantu yang tercinta sedang pulang kampung langsung si mommy yang begitu superiornya di kantor kebingungan sampai jatuh sakit dll karena harus urus anak beberapa hari, please… don’t use that sucks thing as a reason.

Full time mommy isn’t a job, it’s a PRIVILEGED and career mommy isn’t a privilege, it’s a JOB. You can’t compare privileged to a job and vice versa, you only can choose one of them, so choose carefully. Where you would be on the future reflect from what you choose today.

Dan, bukan berarti saya tidak menyukai career mommy, saya pun manusia yang silau akan uang, bener… saya doyan uang juga loh… hanya saja saya tidak melihat jika semua hal bisa saya korbankan demi uang yang bisa dicari NANTI. Itulah kenapa saya meminta istri saya untuk berhenti kerja agar bisa menjaga anak kami setidak nya sampai mereka masuk sekolah. Dan jangan mengira saya orang kaya, tidak, saya bukan orang kaya, saya hanya orang yang berani bilang cukup dan berhemat demi prioritas lain yang buat saya lebih penting, bahkan lebih penting diatas segala yang saya miliki, hal itu adalah anak-anak saya.

Yang menjadi masalah adalah, apakah bisa seorang ibu yang bekerja diluar rumah bisa tetap menjaga anak tidak telantar (dalam arti tetap dipegang sang IBU) jika hidup di kota yang merampas sebagian besar hidup kita dijalan? Jika bisa berarti Anda dewa atau mungkin malaikat yang punya sayap jadi bisa terbang kesana kemari, atau mungkin kantor Anda tetanggaan dengan rumah Anda.

Itu juga yang memicu saya mati-matian berjuang ke daerah/ tempat yang bisa membuat istri saya bisa mulai bekerja lagi tanpa melepas anak-anak, jadi dia bisa bekerja saat anak-anak sedang sekolah atau ada kegiatan lain (jika dia menginginkan hal itu nanti). Apakah ada tempat seperti itu? saya tidak tahu, yang saya tahu adalah saya harus berusaha kearah sana, jika tidak ada maka saya harus memikirkan cara agar istri saya tetap memiliki jalan untuk memiliki penghasilan, misalnya usaha.

Jadi, tidak perlu bangga jika bisa menjadi seorang wanita karir tapi menelantarkan anak atau menjadi wanita karir yang didasari oleh pembenaran-pembenaran untuk menghindari/ mengejar sesuatu. Akan tetapi banggalah menjadi wanita karir yang memang menjadi sebuah tuntutan, apalagi berhasil menyeimbangkan hal tersebut dengan peran seorang ibu, itu baru 4 jempol keatas.

Dan, untuk yang menjadi full time mommy, silahkan kalian berbangga, karena tidak ada seorang pun yang menggunakan pembenaran sebagai alasan menjadi full time mommy (emangnya lu kira enak ya jadi full time mommy? cobain dulu deh 3 bulan kalau kuat baru komentar), karena menjadi seorang Ibu adalah sebuah keistimewaan dari TUHAN. Dan, tidak perlu memberikan sebuah judgement kepada ibu-ibu yang tidak bisa menjadi full time mommy terlepas apapun alasannya, karena sebetulnya mereka itu kasian.

So, please stop compare both of them, privileged can’t compare to a job. Privileged is priceless, something you can earn but you can’t buy.

Tahu kenapa SURGA dibawah TELAPAK kaki Ibu? Bukan karena dia bisa menghasil 1 milyard sebulan buat kalian (anak-anak nya) foya-foya, bukan. Tapi karena dia memberikan waktu dan hidupnya untuk kalian, hidupnya itu artinya semuanya, mengerti kan?

Advertisements