Tags

,

Banyak yang sampai saat ini bertanya kepada saya mengenai keputusan “gila” saya untuk pergi dari semua kenyamanan dan kemapanan yang sudah berhasil saya raih sampai saat ini, dan sebetulnya saya pun kerap kali masih sering bertanya kepada diri sendiri, dan agak “ragu” apakah saya siap dengan semua konsekuensi nya.

Keinginan untuk mengejar kehidupan yang lebih baik (bukan berarti lebih kaya secara materi) sudah ada di benak saya sesaat setelah saya melamar istri saya di akhir tahun 2008, kemudian semangat tersebut mulai menguat saat kami sudah menikah di akhir tahun 2009, dan mulai saya tekunin dari tahun 2010 dengan mencari informasi mengenai syarat pra-syarat mengajukan PR Australia.

Pertengahan tahun 2011, tiba-tiba keinginan itu perlahan meredup seiring sulit nya syarat mengajukan PR di negara kangguru tersebut, baik dari sisi pengalaman kerja saya yang belum memenuhi syarat karena ijazah dan pengalaman kerja yang berbeda dengan profesi (lulusan engineering kerja di IT), dan syarat ujian IELTS (bahasa inggris) yang terlampau tinggi untuk di capai oleh saya yang bodoh dalam berbahasa Inggris ini membuat semua impian saya seakan-akan mustahil dan meredup disamping kenyamanan yang semakin bertambah saat itu.

Lalu, pada akhir 2011 dan awal 2012, dimana anak saya sudah lahir dan kebetulan saya dikirim ke Sidney, Australia selama 3 kali kunjungan oleh kantor saya, saya mulai melihat dan merasakan jika saya tidak boleh menyerah, saya harus mengejar impian saya. Keadaan kedua lingkungan yang bagaikan langit dan bumi, keadaan udara dan air yang tidak terpolusi dengan parah, belum lagi mental dan etika manusia-manusia nya, ditambah semua fasilitas public, pendidikan, dan kesehatan, membuat saya termenung lama, apakah saya masih memiliki keberanian untuk melangkah dari kehidupan saya yang sudah “nyaman” ini demi mengejar dan memberikan kehidupan yang lebih baik lagi untuk anak dan keluarga saya walaupun ada harga yang harus saya bayar kemudian, yaitu menjadi TIDAK enak dan/ atau nyaman karena harus memulai lagi semua nya dari NOL…???

Setelah pulang, dan melihat carut marut nya ibu kota, belum lagi berita-berita tentang koruptor, politik, UN yang amburadul, dan lainnya membuat saya akhirnya memutuskan… memutuskan sebuah keputusan paling kontroversial dalam hidup saya dalam 32 tahun, saya memutuskan untuk maju mengejar impian saya yang paling ambisius dan liar ini, menuju tempat yang lebih baik (menurut saya).

Langkah demi langkah saya mulai jalankan, ujian IELTS berkali-kali agar bisa mendapatkan setiap section dengan nilai 7 demi mengejar point agar bisa memenuhi kualifikasi PR, assessment skill/ keahlian yang saya miliki agar bisa memenuhi pra syarat sampai pertengahan 2013, dan hasil nya saya hampir menyerah lagi untuk kedua kalinya karena Ujian IELTS yang gagal terus mendapatkan setiap section 7 membuat saya sangat frustasi dan depresi, dan saya mulai melihat jika impian saya itu adalah sesuatu yang mulai mustahil untuk diraih….

Selama itu, saya dan istri tidak pernah berhenti berdoa, berdoa minta bimbingan yang di Atas agar bisa memberikan jalan, dan membantu kami agar mendapatkan jalan terbaik, kami dalam posisi yang pasrah se-pasrah-pasrah-nya, apa yang menurut Mu yang terbaik terjadi lah Tuhan…

Kemudian, mendekati akhir 2013 tiba-tiba sebuah email masuk ke Inbox saya, isinya sungguh membuat tidak percaya, membuat saya mengejap mata berkali-kali, membaca nya sampai berkali-kali untuk memastikan saya tidak salah baca, ada sebuah tawaran dari sebuah perusahaan disana yang membutuhkan tenaga seperti saya untuk bekerja disana dan ditawarkan sebuah sponsor untuk pengajuan PR lewat nominasi. Serasa tidak percaya saya mulai menjajaki tahapan demi tahapan, interviuw dll dan akhirnya saya masuk tahap nominasi melalui sponsorship dari perusahaan tersebut di akhir 2013.

Bulan Mei 2014 kemaren, hasil keluar dan tertulis kata “Approved”, sungguh sangat terharu melihat jalan mulai terbuka didepan kami, ya Tuhan… sungguh tidak ada 1 kata maupun 1 kalimat pun yang bisa saya ucapkan untuk mengungkapkan betapa bersyukur nya kami terhadap mukjizat Mu ini, Kau membuat sesuatu yang mustahil menjadi TIDAK mustahil, setidaknya memberikan secercah harapan.

Juni 2014, aplikasi PR mulai kami masukan, sekarang kami hanya bersabar dan menunggu undangan untuk cek kesehatan dan membuat SKCK, dan berharap agar hasilnya bisa berhasil mendapatkan PR, dan saya bisa mulai melangkah berusaha mewujudkan impian saya untuk anak dan keluarga saya.

Saya bukan tidak bersyukur dengan keadaan saya sekarang, saya sangat bersyukur, tapi ada hal-hal yang tidak bisa saya jelaskan dengan kata-kata mengapa saya (bisa dibilang) nekat melangkah kesana. Ada hal-hal mendasar yang lebih dari sekadar keadaan kota, politik negara ini, lebih dari sekadar sebuah kenyamanan, lebih dari sekadar pendidikan dan kesehatan. Saya melihat ada sesuatu yang bisa membuat keluarga saya memiliki kehidupan yang lebih baik disana.

Saya melihat jika hidup itu bukan hanya sekadar nyaman atau tidak nyaman, bukan sekedar sudah enak atau belum, bukan sekadar apa yang kita miliki. Hidup itu bagi saya harus lebih dari itu semua, harus lebih baik setiap saatnya, untuk bisa lebih baik kita harus mau berjuang, berjuang mendapatkan apa yang kita impikan, apa yang kita kejar untuk membuatnya lebih baik, dan itu tentu tidak akan membuat kita nyaman untuk waktu yang lama.

Saya melihat ada HARAPAN disana, itu mengapa saya melangkah kesana. Walaupun ada konsekuensi yang harus saya tanggung, akan saya hadapi demi kehidupan keluarga saya agar bisa lebih baik lagi.

Bantulah kami ya Tuhan, untuk mewujudkan impian kami…. Amin…

Advertisements