Sebuah Moral Kehidupan

Berita beberapa hari lalu yang memuat tentang seorang pengendara mobil yang dihakimi masa karena menyebabkan seorang pengendara motor meninggal akibat motor tersebut lawan arah dengan kecepatan tinggi kemudian menabrak mobil yang sudah benar arahnya dan melaju dengan kecepatan 60 km/jam membuat saya terhenyak.

Lama… saya berfikir dan berfikir, apakah memang moral di negara ini sudah hilang? ditambah lagi dengan pernyataan Pak Polisi yang kurang lebih menyatakan jika mereka tidak melihat lagi siapa yang salah atau benar, dan menghimbau pengendara mobil untuk menyantuni korban, membuat saya semakin miris dan tidak bisa berfikir lagi.

Dengan menghela nafas panjang, mata saya kemudian jatuh pada 1 artikel tentang ujian nasional yang “katanya” membuat banyak siswa/i frustasi karena selain pelaksanaannya yang ancur lebur ga karuan, juga bocor nya soal ujian dan kunci jawaban yang dijawab dan disusun oleh sekelompok guru dan kepsek yang berkolaborasi di sebuah kota di jawa timur.

Lama saya termenung dan mencari-cari jawaban, ada apa dengan negeri ini? Sekolah dimana seharusnya menjadi tempat untuk memupuk dan memberikan dasar-dasar moral, etika, dan mental untuk kehidupan mendatang para generasi penerus selain di rumah, saat ini seakan-akan berubah menjadi tempat komersial parah yang “terkesan” menghalalkan segala cara untuk bertahan.

Akan menjadi apa negeri ini jika hal ini terus berlanjut?

Berita tentang anak memerkosa anak lain, membunuh teman mainnya, kasus sodomi bahkan di sekolah yang katanya taraf internasional, tawuran antar pelajar, dan segala bentuk tindakan-tindakan yang membuat miris orang-orang yang membaca nya, membuat saya semakin bertekad untuk berusaha mendidik anak saya dengan cara lain.

Saat ini, jika jalan tersebut diberikan, saya sudah tidak peduli lagi dengan budaya barat atau timur, tidak peduli jika culture timur nanti “katanya” akan terkikis yang “katanya” saat tua kami sebagai orang tua tidak akan di urus dsb, saya tidak peduli.

Lebih baik kami saat tua (dan semoga masih bisa sampai tua) tidak di urus seperti budaya barat daripada anak kami tidak memiliki akhlak, mental, moral dan etika yang baik karena fondasi yang diterima disini saat di sekolah sudah jauh dari hal-hal tersebut.

Disisi lain, kami (saya dan istri) juga sudah bertekad untuk tidak ingin merepotkan anak-anak kami kelak saat kami sudah tua. Ya… kami mengerti anak harus berbakti pada orang tua nya, ya itu benar, tapi tolong di mengerti juga jika kata “BERBAKTI” bisa diwujudkan dalam banyak hal dan memiliki arti yang sangat sangat luas, sehingga tidak hanya terbatas pada memberikan uang ke orang tua atau melayani kami para orang tua.

Saat ini, tidak ada yang lebih saya inginkan selain meraih cita-cita saya yang paling liar dan ambisius ini, yang saya inginkan hanya diberikan jalan untuk meng-eksekusi my big decision ini.

Karena, jujur bagi saya sudah tidak ada value lagi untuk mendidik anak disini walaupun saya memiliki dana tidak terbatas sekalipun (terserah bagi pandangan orang lain, itu hak mereka). Jika jalan itu diberikan, saya akan melakukan permanent move demi anak-anak saya, demi keluarga saya. Saya tidak takut hidup susah “lagi”, tidak takut jika harus berjuang mati-matian lagi, tidak… selama hal itu bisa memberikan hal yang baik bagi anak dan keluarga saya.

Harapan saya, semoga jalan itu berikan.

Bantulah saya, Tuhan. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s