14 Tahun (lalu)

Setelah melalui 16 jam perjuangan yang sangat melelahkan, akhirnya kami sekeluarga tiba di kota Tegal, kota dimana abu mendiang Papa saya di semayamkan. Berawal dari keinginan Mama saya untuk melepaskan abu Papa ke laut utara Jawa dengan legowo setelah sekian lama, 14 tahun… ya 14 tahun lama nya abu Papa disimpan di rumah abu Cembengan, Tegal. 14 tahun yang begitu melelahkan , menantang, melahirkan begitu banyak perjuangan dan derita, dan juga kebahagiaan.

Tidak terasa, sudah 14 tahun Papa meninggalkan kami…

Sebuah prosesi yang dimulai dengan upacara kecil-kecilan selama seharian untuk membakar sebuah rumah yang terbuat dari kertas menurut kepercayaan Konghucu yang diyakinin bisa membuat arwah tenang disana. Prosesi tersebut kemudian di tutup dengan membakar rumah kertas tersebut (yang setinggi 2 meter dan lebar 3 meter) di tempat krematorium Tegal, yang secara tidak langsung membawa saya ke 14 tahun lalu saat menyulut api kremasi untuk Papa di tempat yang sama… jadi teringat Papa dan sedih…

Yang kemudian dilanjutkan prosesi pembuangan abu Papa dihari berikut nya, dimulai dari jam 5 pagi, lalu menggunakan kapal laut nelayan yang disewa untuk membawa abu Papa dan abu hasil pembakaran rumah kertas semalam.

Perjalanan melalui sungai hilir yang kemudian menembus lautan luas membawa saya kembali ke 14 tahun bahkan 20 tahun silam atau lebih, ya… Papa dulu berkarya di Pelabuhan, dimana bau air laut sangat melekat kepada diri beliau karena sebagian besar hidup nya di habiskan di area pelabuhan. Sebuah memori yang kemudian membuat mata berkaca-kaca secara tidak sadar sambil memeluk guci yang berisi abu Papa.

Setelah sampai di tengah lautan luas yang air nya sudah lebih jernih, lalu abu Papa mulai di tuang kelautan luas bersama dengan kembang dan abu hasil pembakaran rumah kertas beserta uang-uang an dan kertas-kertas emas sebelumnya. Ada sebuah perasaan yang sangat berat saat melepas abu Papa ke laut saat itu, sama seperti saat harus menyulut api kremasi, sama seperti harus melepas Papa pergi untuk selamanya. Perasaan yang sangat sedih tiba-tiba memenuhi dada saya selama menuangkan abu tersebut ke laut lepas.

Kemudian cai ko (pendeta konghucu yang membantu kami selama upacara) berkata “Papa kamu sudah tenang dan senang”, lalu saya bertanya “Kok bisa ai? tau dari mana?”, “Kalau kamu ingat, selama proses upacara pembakaran rumah kemaren kan tidak angin, itu jarang terjadi, jadi rumah yang kamu bakar langsung keatas hembusan angin nya, itu artinya diterima”. O iya, baru ingat, memang malam itu tidak ada angin sama sekali, jadi semua hembusan udara dari pembakaran benar-benar mengarah ke atas seperti kompor gas besar.

“Dan satu lagi, selama prosesi pembuangan abu ini langit sangat cerah dan tidak ada angin dilaut, untuk masa pancaroba begini sangat jarang terjadi juga, itu kenapa saya yakin Papa kamu sudah tenang dan senang”, menurut cai ko. Memang saat itu juga tidak ada angin, jadi prosesi pembuangan tidak sulit, kapal tidak bergoyang parah dan air laut sangat tenang. Ya… percaya tidak percaya, selama hal itu baik dan membuat Papa senang dan tenang, saya percaya saja.

Lalu, setelah semua selesai, kapal mulai berputar sebanyak 7 kali mengelilingi area tempat pembuangan, kemudian kembali mengarah ke dermaga dimana dia berangkat.

Seluruh prosesi ini, sangat melelahkan dan melegakan. Setidaknya, tugas terakhir sebagai seorang anak sudah saya selesaikan. Selamat jalan Papa, semoga semakin tenang dan senang disana, ananda tidak akan pernah melupakan ajaran-ajaran mu, dan prinsip-prinsip hidup mu. Maafkan ananda jika pernah mengecewakan mu.

Lalu, kami memulai kembali perjalanan pulang ke Jakarta, proses yang menghabiskan waktu 12 jam. Benar-benar sebuah ujian untuk perjalanan kami kali ini, untuk pertama kalinya kami ke Tegal PP harus menghabiskan waktu lebih dari 6 jam bahkan 8 jam di jalan.

Prosesi ini, membuat saya berfikir selama berada di atas kapal yang membawa kami ke lautan luas, hidup ini benar-benar fana, sangat fana, jika kita tidak mengisinya dengan hal-hal baik, lalu apalagi yang menjadi arti dari hidup ini. Setidaknya, jika kita tidak bisa mengisinya dengan hal-hal baik terhadap orang lain, kita bisa mengisinya untuk keluarga kita, atau keluarga inti kita, atau setidaknya untuk diri kita sendiri.

Hidup ini singkat, terlampau singkat untuk beberapa orang.

14 tahun… 14 tahun yang lalu, saat semua terjadi, bahkan untuk membayangkan hari ini pun saya tidak berani. Sebuah hari dimana segalanya direnggut dari saya secara paksa, membuat saya terlunta-lunta tidak tentu arah, yang membuat saya membunuh impian saya secara perlahan, sampai suatu hari impian tersebut mulai tumbuh kembali sebelum benar-benar terbunuh.

Tuhan tidak pernah berdusta, Dia selalu pegang janji-Nya, bagi orang percaya, mukjizat itu nyata.

Terimakasih Tuhan, untuk 14 tahun yang sangat mendidik ini, yang menempa saya sedemikian kerasnya, yang membuat saya memiliki hari ini, hari yang bahagia ini.

Terimakasih Tuhan, Kau memang Maha Baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s