Tags

,

Daddy… Daddy… Daddy… itulah yang selalu saya dengar setiap pulang kerja saat ini, anak saya mulai bisa bicara dan kerap mengucapkan kata tersebut “daddy” setiap melihat saya, baik itu saat memeluk saya dengan manja atau saat minta di peluk dengan manja hahaha…

Saya sungguh bahagia, bahagia menjadi seorang Bapak/Ayah/Papa/Daddy yang memiliki anak sepintar dan se-ingin-tahu dia. Setiap saat, jika saya perhatikan, anak saya termasuk yang tidak bisa diam saat melihat sesuatu yang baru. Apalagi saat berhasil melakukan hal baru walaupun hanya sesimple bisa mengikatkan pita ke sebuah mainan dia, expresi dia saat berhasil melakukan hal itu benar-benar membuat saya dihantam sebuah perasaan yang….. yang….. yang…… sangatttt sulit saya tuliskan melalui kata-kata.

Hal itulah… hal itulah yang tidak pernah berhenti memotivasi saya untuk tidak menyerah, untuk mencari tempat yang lebih layak dan baik untuk membesarkan dia. Tempat dimana dia tidak perlu mengulang “kebodohan” bapak nya yang dulu sekolah di “jejelin” dengan menghafal plat nomor kendaraan, nama bandara, nama ibu kota, bahkan nama tari2an dari sabang sampai merauke, dan masih banyak lagi hal lain yang tidak berguna tapi tetap di “jejelin” sebagai materi yang mensyaratkan sebuah kelulusan yang bodoh, yang kemudian hanya menjadi seonggok sampah yang terlupakan saat besar dan tidak berguna saat harus berjuang mencari sesuap nasi.

Hal itulah, yang memotivasi saya terus untuk semangat dan untuk tidak menyerah. Tidak, saya tidak akan menyerah, jika saya tidak mampu membawa dia ke tempat yang lebih baik (sekali lagi lebih baik menurut versi saya) maka saya akan mengusahakan tempat yang lebih “tidak parah” dari tempat sekarang, walaupun dengan rasa pahit mendalam jika nanti diharuskan menerima kenyataan saya harus membesarkan dia disini.

Keadaan per”politikan” di negara ini, sepak terjang para pejabat dan pemerintahan yang lebih mirip lenong bocah ataupun ludruk yang terlihat menghibur akan tetapi sebetulnya membodohi masyarakat, tingkah laku pengguna jalan raya yang lebih mirip segerombolan penghuni rimba daripada penghuni kota, dan biaya sekolah beserta kesehatan yang lebih mirip sebuah perampokan daripada sebuah dedikasi pengabdian, membuat saya berpikir (yang kata orang arap “mhemfuat ane berfihkir – maksa dotcom”) dan membayangkan, akan seperti apa 5 sampai 10 tahun kemudian.

“Tapi kan nanti bisa berubah, sudah ada tokoh-tokoh yang dipercaya bisa mengubah” – damn… itu yang saya pikirkan 10 tahun sebelum nya, saat partai pemenang saat ini yang akan lengser dengan menggebu-gebu berteriak “katakan TIDAK pada KORUPSI” (PRETTT!!!) yang akhir nya justru menjadi partai yang memiliki tersangka yang tidak kalah bersaing dengan partai lainnya. Itu…. sudah menjadi pengalaman, pengalaman tidak terlupakan tentang ketololan saya sudah menaruh begitu banyak dan besar harapan ditempat yang justru membuat saya akan menyimpan harapan ini sebagai harapan terus, mimpi sebagai mimpi terus tanpa ada nya realisasi.

Saya tahu, di tempat tujuan pun ada kemungkinan membuat saya kecewa dan kaget, ya… saya mengerti itu, saya masih manusia biasa dan fana yang selalu di kejar-kejar rasa ketidak puasan, dan selalu mengejar hal yang bisa memuaskan dahaga ketidak puasan yang tidak pernah puas ini. TAPI, saya yakin… saya tidak akan pernah puas dimanapun saya berada, itu mengapa… saya mencari tempat dimana jika saya tidak puas, saya setidaknya bisa tenang melihat anak saya tetap bisa sekolah dalam ketidak puasan saya terhadap keadaan, bisa tetap tenang jika sudah bersinggungan dengan masalah kesehatan dalam ketidak puasan saya, bisa tidak khawatir dengan masa pensiun dan masa tua saya walalupun tetap berada dalam ketidak puasan. Setidaknya saya bisa bebas dari 3 hal tersebut dalam ketidak puasan saya.

Bingung? ya saya juga bingung sebenarnya, mau mengorbankan seluruh kemapanan yang sudah saya raih melalui perjuangan yang tidak mudah. Mau memulai lagi dari dasar untuk sesuatu yang belum sejelas keadaan disini. Ya, saya tahu saya edan, tapi mungkin itulah hebat nya perasaan seorang ayah yang ingin melihat anak nya tumbuh kembang dengan lebih baik lagi, yang selalu berusaha mencapai hal itu setiap melihat adanya jalan yang terpampang didepan mata, yang selalu berani (setidak nya berusaha berani) untuk bergerak keluar dari zona nyaman yang membunuh. Untuk selalu memikirkan kepentingan keluarga diatas kepentingan pribadi (Nah… ini gunanya pelajaran PMP).

Mungkin itulah seni nya menjadi seorang suami, ayah, dan kepala keluarga.

Advertisements