Tags

,

Ah… besok sudah senin lagi, hari yang paling saya tunggu dan saya benci, saya tunggu karena itu menandakan permulaan 1 minggu yang baru lagi, yang secara tidak langsung mempercepat penantian saya akan selesai nya sebuah ikatan, tapi saya benci juga karena itu adalah hari dimana kemacetan itu luar binasa parah nya (seperti hari Jumat) yang mana sekarang semakin menjadi-jadi sampai selasa-rabu-kamis pun tidak ada bedanya.

Saya mencoba untuk menggunakan Commuter Line, sudah 2 minggu ini saya coba kendaraan massal tersebut, jika dibandingkan Busway dan kendaraan massal lainnya di Jakarta ini, KRL memang yang paling mendingan (walaupun jauhhhh… banget dari kata nyaman apalagi aman).

Ya, memang jauh dari kata aman karena saya harus meloncati rel perlintasaan untuk ganti jalur rel saat akan transit baik di Duri maupun di Manggarai. Parah emang, nyawa buat maenan kalau kata orang haha.. tapi ya itulah Negara ini, safety nomor sekian, korupsi nomor satu.

Belum lagi tingkah laku penggunanya, dari yang tidak mau mengalah untuk orang yang turun terlebih dahulu sampai berebut tempat duduk. Ada 1 style yang selalu saya perhatikan dari pengguna kereta di Jakarta ini, yaitu naik-duduk-molor (atau pura” molor) agar tidak perlu memberikan tempat nya kepada orang yang lebih pantas mendapatkan nya.

Mentalitas nya benar-benar payah dan rendah. Setiap hari saya ada dijalanan Jakarta, baik saat di atas Motor (jadi biker) atau di dalam Mobil, atau bahkan saat menggunakan kendaraan Umum, yang terlintas di benak saya adalah 1 pertanyaan “Ini saya sedang di kota atau di hutan sih? kenapa saya merasa dikelilingi oleh beruk bukan oleh manusia yang berakal sehat selama di jalanan.”

Hemm… sedikit lagi step 2 akan dimulai, semoga… semoga… semoga… saya bisa mendapatkan restu dari Atas agar bisa memiliki jalan untuk pergi dari sini, dari kota gila ini. Entah mengapa saya sangat bertekad untuk membesarkan anak saya jauh dari polusi, kekacauan, dan keadaan di kota ini. Anak saya berhak mendapatkan yang lebih baik dan jika saya sanggup kenapa saya harus takut mengejarnya, itu tekad saya.

Saya tidak ingin membesarkan anak saya di tempat yang air minum saja harus beli galonan, mau keluar saja harus menggunakan masker, ingin rekreasi saja harus macet-macetan dulu 2-3 jam kalau beruntung, menghabiskan weekend di Mall, iya… hanya di mall, bisa-bisa jadi anak mall nanti, parah.

Tidak! anak saya berhak mendapatkan kesempatan untuk tumbuh di tempat yang lebih bersih, lebih baik, lebih memiliki alam dan tentunya lebih memiliki sebuah kelayakan untuk hidup baik. Walaupun untuk semua itu saya harus melepaskan seluruh kemapanan yang sudah saya raih disini dengan susah payah. Saya akan berusaha sampai titik keringat terakhir agar anak saya bisa mendapatkan lingkungan yang lebih baik.

Kota ini, sudah tidak memiliki sebuah “kelayakan” hidup lagi di mata saya.

Advertisements