Singkong

Banjir menerjang Jakarta lagi, untuk ke sekian kali nya, menyedihkan sebenarnya, kota besar akan tetapi tidak di ikuti oleh otak yang besar begitu juga hati yang besar, jadi lah kota besar dengan masalah yang tidak kalah besar yang diciptakan oleh penduduk nya sendiri yang dengan bangga nya menyebut diri mereka ” Gue orang Jakarte!” terus? So wat geto loh… haha…

Okay, ada sebuah fenomena yang lucu saat banjir datang di kota ini, berbondong – bondong masyarakat mulai beli ini itu sebagai stok makanan agar saat terkepung banjir, keluarga tetap bisa makan. Yang menarik adalah, orang-orang yang katanya orang kota tapi asal dari kampung ini mengincar makanan-makanan instant seperti misalnya Indomie sebagai stok.

Saya sebetulnya tidak mau mengkritik mereka, hanya saja ada beberapa komentar saat saya juga sedang antri di kasir untuk membayar sabun cuci tangan yang baru saya ambil di rack. Mereka ngedumel (bahasa jw) jika banjir membuat mereka harus beli Indomie, makan Indomie padahal Indomie menurut mereka tidak baik, bla bla bla…

Kenapa harus Indomie? alasannya praktis, mudah dibuat, bumbu nya itu loh… yang katanya ga baik tapi membuat makan jadi lahap haha…

Lucu memang tingkah orang-orang kota ini, pongah setengah mati. Kalau memang keberatan makan Indomie karena banjir, kenapa ga ke pasar tradisional saja? disana banyak singkong dan ubi. Makanan sehat, mudah dibuat, tidak perlu tetek bengek. Toh sama-sama butuh kompor kan.

Terlebih lagi, harga 1 bungkus Indomie bisa untuk beli berapa banyak singkong tuh? dan singkong itu bisa untuk makan berapa banyak mulut?

Bicara ketahanan, singkong juga tahan lama jika tidak dikonsumsi, dan tanpa bahan pengawet, sifat nya karbohidrat sehingga mengenyangkan, dan yang paling penting adalah bisa ditanam jika tidak dikonsumsi.

Yang lebih penting lagi adalah kita secara tidak langsung membantu mbok-mbok yang jualan di pasar agar bisa tetap hidup, mereka lebih membutuhkan uang itu daripada bos-bos berdasi di Indofood kan.

Lalu pertanyaan nya adalah, kenapa pada ga mau stok singkong atau ubi?

Mungkin…. mereka menganggap itu makanan wong kampung, sedangkan mereka “mungkin” adalah wong kota.

Mungkin… mereka merasa makan singkong itu gengsi.

Mungkin…. ah… ga usah mungkin mungkin… yang pasti saya baru goreng ubi 3 buah hari ini untuk mengganjal perut karena dikepung banjir. Kenyang, manis, dan lezat tuh….

Singkong dan Ubi memang berasal dari desa, tapi tanpa mereka tidak ada Indonesia, karena pejuang kita dulu makan nya singkong. Jadi ga usah sombong saat sudah di Kota.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s