Hujan menuju Banjir dan Macet

Beberapa tahun belakangan ini, saya selalu merasa stress saat hujan mulai turun di Jakarta. Why? karena saat hujan turun maka beberapa (mungkin sebagian besar) daerah di Jakarta akan terendam air (baik tergenang maupun berenang), dan jika hal itu terjadi di hari kerja (weekdays) maka kemacetan luar biasa sudah menunggu saat pulang kerja.

Jika, hujan sudah turun ditambah dengan jam 5 sore (saat pulang kerja), maka saya sudah harus siap dengan 3 jam dijalan, dan jika ditambah dengan weekend maka saya harus sudah siap dengan 4-5 jam dijalan. Itu baru pulangnya, untuk berangkat nya karena saya berusaha menghindari macet parah, saya harus jalan jam 6 pagi paling lambat, agar dalam 1-1,5 jam saya bisa sampai di kantor.

Pergi jam 6 pagi sampai rumah jam 8 bahkan 9 malam adalah hal yang harus dianggap normal jika hidup di Jakarta. Benar-benar sebuah hidup yang sangat tidak berkualitas untuk membangun sebuah keluarga.

Saya dulu tidak pernah mengerti mengapa teman-teman maupun orang-orang yang sudah migrasi atau bekerja di luar negeri tidak mau kembali lagi ke Indonesia.

Sekarang saya mulai mengerti sedikit dan akan saya rangkum,

1. Kurang nya pemerataan lapangan kerja untuk tenaga profesional, khususnya untuk IT, semua terpusat di Jakarta, dan… yahh… seperti yang kita tahu, hidup di Jakarta arti nya kita harus siap kehilangan sebagian besar hidup kita untuk bermacet ria dan berpolusi ria di jalan.

2. Kurang nya penghargaan dari Pemerintah, khususnya untuk tenaga ahli di bidang science, ilmu terapan, dan pengembangan. Banyak ilmuwan-ilmuwan dari Indonesia yang menjadi bagian dari penemuan-penemuan penting untuk dunia lebih memilih untuk berkarir di luar negeri karena lebih di hargai.

3. Korupsi yang menggerogoti negeri ini dan budaya membuat hukum menjadi pertunjukan ludruk. Ya, saya akui Hukum dan Keadilan di negeri ini masih bisa di beli dan di permainkan oleh orang-orang berduit.

4. Bobrok nya mental dari pemerintah kita (dan saya lihat lebih bobrok penerusnya) jika sudah menyangkut kata uang, korupsi benar-benar sudah menjadi seperti sinetron, tidak ada kata malu lagi dan semua sambung menyambung dengan judul beda tapi isi cerita sama, yaitu “Korupsi”

5. Terlalu dominan dan fanatik nya beberapa hal (tanpa bermaksud SARA), ini kadang menjadi batu sandungan untuk orang-orang yang mau berinvestasi di Indonesia, dan tentu saja hal ini bisa terjadi karena lemah nya pemerintah yang ada.

 

Mungkin…. ya mungkin, masih butuh sangat banyak darah dan pengorbanan untuk mengubah negeri ini. Dan… mungkin suatu saat ada jalan keluar nya.

Saya hanya sering membayangkan saja, apa jadi nya 5 atau 10 tahun lagi di kota ini? Mungkin Jalan kaki bisa menjadi pilihan yang terbaik untuk berpergian.

Semoga, suatu saat ada jalan keluar nya, termasuk untuk apa yang saya cita kan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s