Sebuah Lelucon

Suatu hari ada seorang wanita berjalan memasuki sebuah Bar dimana banyak orang berkumpul.

Lalu dia menceritakan sebuah lelucon kepada semua orang di Bar, semua orang di Bar tertawa serentak terpingkal-pingkal mendengar lelucon tersebut.

Lalu dia menceritakan kembali lelucon yang sama, dan sebagian dari mereka tertawa mendengarnya.

Lalu dia menceritakan kembali lelucon yang sama untuk ketiga kalinya, dan hanya sedikit dari mereka yang tertawa.

Lalu dia menceritakan kembali lelucon yang sama untuk ke empat kali nya, dan tidak ada yang tertawa.

Setelah itu dia bertanya, “mengapa kita tidak bisa tertawa untuk sebuah lelucon yang sama berkali-kali, akan tetapi kita mampu menangis untuk hal sedih yang sama berulang kali?”

Hidup adalah sebuah pilihan, dan pilihan tersebut lahir dari sebuah cara pandang, dan sebuah cara pandang lahir dari sebuah pemikiran, pemikiran bisa lahir dari dua cara, secara positif maupun secara negatif.

Kadang kala hidup kita terlalu di-buta-kan oleh napsu yang mengebu, di-sesat-kan oleh ke-egois-an kita, dan di-silau-kan oleh pencapaian kita yang gemerlap.

Sering kali kita melupakan 2 hal yang selalu membuat kita tetap berdiri sebagai seorang manusia yang manusia(wi), yaitu hati nurani dan akal sehat.

Hidup memang rumit, akan tetapi itulah hidup, kita tetap harus menjani hidup kita walaupun rumit, dan disitulah kita membutuhkan 2 hal tersebut agar ke-rumit-an dalam hidup kita tidak mengubah kita dari kodrat kita sebagai manusia yang manusia(wi).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s