Tags

,

Gue pernah memikirkan untuk bisa bekerja dan hidup di Australia, mengapa di Australia, salah satu penyebabnya adalah Negara tersebut sudah lebih stabil dari berbagai bidang. Dan juga Negara tersebut lebih dekat dengan Indonesia, jadi gue bisa lebih mudah untuk pulang pergi selama hal tersebut di butuhkan.

Gue mulai berusaha mencari jalan ke Negara tersebut, gue mulai buka semua website yang bisa gue buka, yang berisi informasi yang gue butuhkan untuk bisa ke Negara tersebut. Gue mulai mengajukan permintaan sponsorship ke Government disana agar gue bisa mendapatkan Skilled Migrant sampai mulai apply semua perusahaan yang gue dapat dari jobs seeker yang ada yang sesuai dengan back ground gue. Gue mulai mencari tahu bagaimana membuat CV yang sesuai dengan keinginan orang-orang disana sampai mencari tahu bagaimana agar kesempatan gue untuk bisa interview sampai bekerja disana lebih besar setiap langkah nya.

Dari semua nya yang gue lakukan, gue mulai mengetahui jika gue melupakan satu hal. Gue baru menyadari jika untuk bekerja di Negara maju seperti Australia tidak sekadar butuh “I am CCIE”. Gue menemukan jika untuk bekerja di Negara maju seperti Australia membutuhkan lebih dari sekadar CCIE. Gue butuh pengalaman yang lebih bagus, gue butuh tantangan yang lebih berat untuk membuktikan kalau gue memang bisa bersaing di Negara itu. Gue butuh semua pekerjaan yang bisa mendukung skill gue agar lebih matang lagi, gue butuh segala sarana agar bisa menjual diri gue lebih tinggi lagi di Negara tersebut.

Gue mulai dengan sebuah marketing singkat agar gue mulai di kenal disana, mulai dari seek.com, careerone.com, linkme.com, dan sejenis nya gue daftar kan CV gue, gue mulai memasarkan diri gue agar mereka tahu jika gue ada dan sedang mencari kesempatan kesana. Gue mulai bertanya – tanya kepada semua orang yang bisa gue tanya agar bisa mendapatkan informasi.

Dari semua yang sudah gue lakukan, gue menemukan 1 hal yang paling mendasar mengapa gue kesulitan untuk bisa kesana, hal itu adalah VISA, baik VISA kerja maupun VISA tinggal (PR).  Sekarang gue sedang berusaha menyusun beberapa cara agar gue bisa mendapatkan VISA tersebut, ada harga yang harus dibayar untuk mendapatkan VISA tersebut.

Dan jika boleh gue rangkum, harga pertama tentu saja financial, gue membayar sejumlah uang agar bisa mendapatkan VISA PR disana, setelah VISA tersebut gue dapatkan maka gue kesana dan tinggal sementara tanpa pekerjaan dan sambil mencari perkerjaan dengan tabungan yang gue punya terlebih dahulu, setelah gue mendapatkan pekerjaan dan sudah mulai stabil, gue sponsor keluarga gue agar bisa pindah dan tinggal bersama gue disana. Cara ini tentunya memiliki resiko yang lebih besar dari sisi financial.

Harga yang kedua adalah keluarga, gue mencoba keberuntungan gue dengan melamar sebanyak-banyak nya ke perusahaan sana, dan jika suatu hari nanti gue mendapatkan sebuah pekerjaan, gue memulai dengan sebuah VISA Kerja selama 2 tahun, setelah itu gue mencoba apply PR. Harga yang harus gue bayar tentu saja berpisah sementara waktu dengan keluarga gue, karena dengan memegang VISA Kerja gue tidak bisa sponsor keluarga gue agar bisa tinggal bersama gue selama yang gue inginkan, secepat jika gue kesana dengan memegang VISA PR. Dan tentu saja harga yang kedua ini lebih bersifat psikologis.

Atau cara ketiga, gue lupakan semua impian gue untuk bisa bekerja disana, dan melanjutkan hidup gue disini dengan semua yang gue miliki, walaupun cara ketiga ini akan menjadi pertimbangan yang paling akhir, karena gue tidak pernah mau kalah dengan keadaan dan gue selalu percaya jika gue mampu menentukan masa depan gue sendiri jika gue berani bertindak, mengambil resiko, dan keluar dari zona nyaman gue, dan tentukan atas persetujuan dari Tuhan.

Sekarang yang menjadi rencana gue adalah membangun sebuah fondasi yang kuat agar bisa membantu agar kesempatan gue kesana bisa lebih besar, dan sekaligus membantu gue agar bisa lebih stabil disana. Rencana gue yang pertama sudah pasti gue butuh tempat kerja yang lebih kompetitif, project yang lebih kompleks dan menantang, team yang selalu berusaha menjadi pemenang di tengah persaingan yang ada. Setelah itu gue harus giat dalam memasarkan diri gue dan kemampuan gue lewat semua media yang ada, pada saat yang bersamaan gue berusaha membangun sebuah people networking yang bisa ikut membantu agar gue memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan dan bisa hidup disana. Dan yang terakhir tentunya gue terus meminta dukungan dari Atas, karena tanpa persetujuan nya apa yang gue inginkan mustahil bisa terjadi.

So if you think become CCIE means you can reach anything, you are totally wrong. Become CCIE only give you a chance for do more than another, but not anything. You still need to fight for your dream even you are CCIE because CCIE is not the ending, but it’s the beginning for the better live as far as you want to fight for it.

Regards

SWD

Advertisements